ABSTRAK
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan aspek sosiologis karakter tokoh yang
ada pada Novel Andika Cahaya Karya Darman Moenir.Menggambarkan
aspek-aspek sosial yang terkait dengan proses sosial. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif.Teori sosiologi
sastra adalah pendekatan mimesis. Pengumpulan data dilakukan dengan cara data
persediaan, termasuk aspek sosiologis karakter dalam Novel Andika
Cahaya Karya Darman
Moenir. Untuk analisis data teknik dalam penelitian ini dilakukan dengan
menganalisis data dan deskripsi data.
Kata
Kunci: Novel Andika
Cahaya,
sosiologi sastra, Hegemoni, dan ideiologi
1. Pendahuluan
Hubungan antara
sastra (sebagai produk imajiner), masyarakat (sebagai tempat persemaian dan
tumbuh kembangnya sastra), dan pengarang sebagai “produsen” sastra adalah
hubungan yang amat bermakna.Kebermaknaan itu terlihat dari pengaruh timbal-balik
antara ketiganya.
Sejauh mana
tingkat hubungan antara sastra, masyarakat dan sastrawan yang muncul dalam
sebuah teks bergantung pada bagaimana seorang sastrawan mengimplementasikan
pengalaman hidupdan fenomena budaya ke dalam karyanya. Dalam hubungan ini,
sangat mungkin jika pengalaman hidup sastrawan dan segala konteks budaya yang
melingkupi akan mengilhami seluruh jalinan peristiwa dalam karyanya. Atau bisa
jadi pengalaman hidup itu hanya sebagai anak tangga untuk ‘meloncat’ lebih
tinggi dalam kembara imajinasinya. Dengan demikian, sebagai efek logis dari
hubungan itu akan memunculkan perbedaan kadar dan jenis kebenaran yang
disuguhkan dalam sastra dan kebenaran dalam dunia nyata.
Sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat atau
bermasyarakat.Hubungan antara keduanya adalah bahwa sastra dianggap sebagai
wujud manifestasi dari kehidupan masyarakat. Sastra “tidak hanya” berbicara
tentang masyarakat secara umum saja, kadang sastra mengandung
muatan-muatan ideologis yang bermaksud mendukung ataupun menentang
kekuasaan yang ada. Eksistensi sastra juga tidak hanya dipandang sebagai
lembaga sosial yang relatif otonom, namun mempunyai kemungkinan relatif
formatif terhadap masyarakat (Faruk, 2010:130).
Kata hegemoni
sering dikacaukan dengan ideologi. Hegemoni berasal dari akar kata bahasa
Yunani, hegeisthai yang berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan, yang
melebihi kekuasaan yang lain. Dalam praktiknya di Yunani, hegemoni diterapkan
untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polis
atau citystates) secara individual.
Titik awal konsep Gramsci tentang hegemoni adalah suatu
kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya
dengan cara kekerasan dan persuasi. Hegemoni bukanlah hubungan dominasi dengan menggunakan
kekuasaan, melainkan hubungan dengan persetujuan dengan rnenggunakan
kepemimpinan politik dan ideologis.
Teori hegemoni (Sugiono, 1999:31-34) dibangun atas premis
yang menyatakan pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka
dalam kontrol sosial politik. Pentingnya ide dalam kontrol sosial politik itu
artinya agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus
merasa mempunyai dan mengintemalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih
dan itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi mereka. Inilah
yang dimaksud Gramsci dengan hegemoni atau menguasai dengan kepemimpinan
moral dan intelektual. Dimana kekuatan hanyalah instrumen untuk menjaga stabilitas
kekuasaan terhadap ideologi, moral, dan kultur penguasa.
Gramsci mengasumsikan bahwa, ada suatu pertalian yang
penting antara kebudayaan dengan politik, tetapi pertalian itu lebih jauh
daripada pertalian yang sederhana dan mekanis. Kebudayaan harus dipecah-pecah
menjadi bermacam-macam bentuknya, seperti kebudayaan “tinggi” atau “rendah“,
kebudayaan elit atau popular, filsafat atau common sense; dan dianalisis
dalam batas-batas efektivitasnya dalam “penyemenan” atau merekatkan
bentuk-bentuk kepemimpinan yang kompleks. Gramsci menolak konsepsi Marxis yang
lebih kasar dan lebih ortodoks mengenai “dominasi kelas” dan menyukai satu
pasangan konsep yang lebih canggih dan bernuansa, adalah “kekerasan dan
kesetujuan”. Dia berurusan terutama dengan cara-cara yang kompleks dan menyeluruh
dari praktik-praktik kultural, politis, ideologis, yang bekerja untuk
“penyemenan” atau merekatkan masyarakat menjadi satu kesatuan yang relatif,
walaupun tidak pernah lengkap.
Gramsci memilah superstruktur menjadi dua level struktur
utama, yang pertama masyarakat sipil dan yang kedua masyarakat politik atau
negara. Masyarakat sipil mencakup seluruh aparatus transmisi yang lazim disebut
swasta seperti universitas, sekolah, media massa, gereja, dan lain sebagainya.
Sebaliknya, masyarakat politik adalah semua institusi publik yang memegang
kekuasaan untuk melaksanakan “perintah” secara yuridis seperti tentara, polisi,
pengadilan, birokrasi, dan pemerintahan. Kedua level superstruktur ini
merepresentasikan dua ranah yang berbeda, adalah ranah persetujuan dalam
masyarakat sipil dan ranah kekuatan dalam masyarakat politik (Sugiono,
1999:35).
Bagi Gramsci, bentuk-bentuk organisasi kultural atau
kebudayaan, merupakan objek yang menarik untuk diteliti secara konkret,
terutama dalam hubungan dengan kemungkinan dioperasikannya dalarn kehidupan praksis.
Studi mengenai kebudayaan serupa itu, misalnya berupa sekolah dengan seluruh
levelnya, gereja dengan organisasi sosial besarnya, surat-surat kabar,
rnajalah-majalah, perdagangan buku, juga apa saja yang komplementer bagi sistem
negara, atau lembaga-lembaga kultural seperti universitas popular. Studi
mengenai kebudayaan juga melipuuti ebgai berbagai aktivitas kultural lainnya,
seperti seni dan kesusastraan (Faruk, 1994:67).
Ada empat hal yang patut dicatat dari teori Gramsci dalam
bandingannya dengan teori Marx.Pertama, Gramsci berpendapat bahwa di
dalam masyarakat selalu terdapat pluralitas ideologi.Kedua, konflik
tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok dengan
kepentingan-kepentingan yang bersifat global (umum) untuk mendapatkan kontrol
ideologi dan politik terhadap masyarakat.Ketiga, jika Marx menyebut
kelas sosial harus menyadari keberadaan dirinya dan memiliki semangat juang
sebagai kelas, Gramsci menyatakan bahwa untuk menjadi kelompok dominan,
kelompok harus mewakili kepentingan.Kelompok dominan harus berkoordinasi,
memperluas, dan mengembangkan interest-nya dengan
kepentingan-kepentingan umum kelompok subaltern.Kata kunci dalam
pemahaman teori hegemoni Gramsci adalah negosiasi yang dibutuhkan untuk
rnencapai konsensus semua kelompok.Keempat, Gramsci berpandangan bahwa
seni atau sastra berada dalam superstruktur.Seni diletakkan dalam upaya
pembentukan hegernoni dan budaya baru.Seni membawa ideologi atau superstruktur
yang kohesi sosialnya dijamin kelompok dominan.Ideologi tersebut merupakan
wujud counter-hegemoni (hegemoni tandingan) atas hegemoni kelas
penguasa yang dipertahankan anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan
penguasa merupakan kehendak Tuhan atau produk alam.Seni merupakan salah satu
upaya persiapan budaya sebelum sebuah kelas melakukan tindakan politik.Hal ini
berarti bahwa seniman atau sastrawan merupakan intelektual.Untuk
mengidentifikasi ideologi, tidak hanya melihat karya seni atau sastra, tetapi
juga memperhatikan pandangan seniman dan intensi pengarang tentang kehidupan,
serta kondisi sosial historis pada saat yang bersangkutan.
Teori hegemoni Gramsci di atas membuka dimensi baru dalam
studi sosiologis mengenai kesusastraan.Kesusastraan tidak lagi dipandang
semata-mata sebagai gejala kedua yang tergantung dan ditentukan oleh masyarakat
kelas sebagai infrastrukturnya, melainkan dipahami sebagai kekuatan dan
kultural yang berdiri sendiri, yang mempunyai sistem sendiri meskipun tidak
terlepas dari infrastrukturnya.Ada cukup banyak studi sastra yang mendasarkan
diri pada teori hegemoni tersebut, di antaranya studi sastra Raymond Williams
(Faruk, 1944:78).
Williams, dalam menerapkan teori hegemoni Gramsci,
membedakan kebudayaan yang terllibat dalam kekuasaan menjadi tiga kategori:
kebudayaan hegemonik atau dominan, kebudayaan bangkit atau emergent, dan
kebudayaan endapan atau residual (Faruk,1994:79; Harjito,2002:28; Williams,
1988:242-247). Kebudayaan dominan bersifat selektif dan cenderung
memarginalisasikan dan menekan seluruh praktik manusia yang lain. Akan tetapi,
proses itu selalu merupakan proses peperangan dan konflik. Kebudayaan yang
bangkit adalah praktik-praktik, makna-makna, dan nilai-nilai baru, hubungan dan
jenis-jenis hubungan yang tidak hanya yang bersangkutan dengan ciri-ciri yang,
semata baru dari kebudayaan dominan, melainkan secara subtansif merupakan
alternatif bagi dan bertentangan dengannya.
Kebudayaan endapan mengacu kepada pengalaman, makna-makna,
dan nilai-nilai yang dibentuk di masa lalu yang terus hidup dan dipraktikan
pada masa kini meskipun bukan merupakan bagian dari kebudayaan dominan dan
bersifat adaptif atau fleksibel dengan bentuk kebudayaan lainnya.Sebagai salah
satu situs hegemoni, di dalam karya sastra terdapat formasi ideologi.Formasi
adalah suatu susunan dengan hubungan yang bersifat bertentangan, korelatif, dan
subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi apa saja yang
terdapat di dalam teks, akan tetapi juga membahas bagaimana relasi antar
ideologi tersebut. Ideologi itu sendiri adalah sistem besar yang memberikan
orientasi kepada manusia.Karena merupakan sistem besar, ideologi mempunyai
pengikut.Ideologi bersifat kolektif dan berada di wilayah supersrtuktur atau
kesadaran dan menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang,
lembaga-lembaga pemerintah, institusi pendidikan, organisasi-organisasi, perusahaan
komersial, dan lain-lain.
2.
Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode
deskriptif.Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan desain yang
sudah terstruktur.Ditentukan sebelumnya, format dan spesifik yang merupakan
rencana operasi yang sangat mendetail.
Pendekatan dalam penelitian ini yaitu denagn pendekatan
sosiologi sastra.Sosiologi sastra yaitu ilmu dalam dalam menganalisis karya
sastra dengan menghubungkannya dengan masyrakat atau sosial-budaya. Dengan
lebih memfokuskan pada hegemoni idiologi.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk
mengetahui formasi ideologi tokoh ialah
sebagai berikut:
1.
Iventarisasi
Tokoh Berdasarkan Peran
Tokoh dalam karya sastra adalh sosok yang mengambil peran
dalam sebuah cerita. Tokoh dalam cerita memiliki variasi fungsi atau peran
mulai dari peran utama, penting, agak penting, sampai sekedar pengembira saja.
Tokoh-tokoh dan
perannya dalam novel Andika Cahaya karya
Darman Moenir adalah:
1.
Tokoh Nazar memerankan peran: bawahan, dan teman.
2.
Tokoh Jotambi memerankan peran: atasan, bawahan, dan teman.
3.
Tokoh Ikrar Gintiang memerankan peran:
bawahan, atasan, teman.
4.
Tokoh Mandela memerankan peran: bawahan,
suami, ayah, dan teman.
5.
Tokoh Lulu memerankan peran: bawahan dan
atasan
6.
Tokoh Mun Pasesa memerankan peran:
bawahan.
7.
Tokoh Novi memerankan peran: teman.
8.
Tokoh Syahri memerankan peran: teman.
9.
Istri Mandela memerankan peran: istri
dan ibu
Tokoh Nazar dala novel tersebut
berperan sebagai bawahan dari KAMUS (Kepala Museum) dan berteman kepada seluruh
jajaran dan orang-orang disekitarnya. Setelah mengarjakan satu hal, Dia selalu
diberi kuitansi kosong oleh atasannya untuk ditanda tangani. Karena dia bawahan
dan harus tunduk kepada atasan maka dia selalu menandatangani kuitansi itu.
Tokoh Jotambi adalah sebagai atasan
di moseum dan juga sebagai bawahan yang tunduk dan patuh
terhadapperitah-perintah dari pusat.
Tokoh Ikrara Gintiang adalah tokoh
yang berperan sebagai bawahan dari KAMUS dan setelah Jotambi pensiun, Ikrar
gintiang menggantikan Jotambi menjadi KAMUS.
Mandela adalah tokoh yang berperan
sebagai bawahan dari KAMUS, dia juga beperan sebagai ayah dari anaknya yang
masih bayi, dia juga berperan sebagai seorang suami, dan dia juga berteman
kepada orang-orang yang bekerja di museum yang setingkat dengannya dan di
bawahnya.
Lulu Permata Sari adalah tokoh yang
berperan sebagai bawahan dari KAMUS Jotambi dan Ikrar Gintiang, dia selalu
menuruti apa saja perkataan dari atasannya. Setelah Jotambi dan Ikrar pensiun
dia langsung menjadi KAMUS dan meminpin museum.
Mun Pusesa adalah tokoh yang
berperan sebagai bawahan dari KAMUS. Begitu juga dengan novi dan Syahri.
Istri Mandela berperan sebagi istri
dari Mandela dan ibu bagi anaknya.
1.
Mengklasifikasikan Kelas Sosial Tokoh
Kelas sosial adalah
pengkelasan atau penggolongan atau
pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah. Orang mempunyai status
sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat
dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Kelas sosial tokoh-tokoh dalam
novel Andika Cahaya karya Darman
Moenir adalah:
1. Tokoh
Nazar memerankan peran: sosial bawah.
2. Tokoh
Jotambi memerankan peran: sosial atas.
3. Tokoh
Ikrar Gintiang memerankan peran: sosial atas.
4. Tokoh
Mandela memerankan peran: sosial menegah bawah.
5. Tokoh
Lulu memerankan peran: sosial atas.
6. Tokoh
Mun Pasesa memerankan peran: sosial menengah atas.
7. Tokoh
Novi memerankan peran: sosial bawah.
8. Tokoh
Syahri memerankan peran: sosial bawah.
9. Istri
Mandela memerankan peran: sosial bawah.
Tingkat sosial Nazar adalah tingkat
bawah, karena dia hanya bekerja sebagi pesuruh di museum. Tingkat sosial Jotambi
adalah atas, karena dia menjabat sebagai KAMUS, dan bisa membiayai kuliah
anaknya di Bali. Tingkat sosial Ikrar Gintiang adalah atas, karena dia bisa
kuliah dan bisa mengurus biaya menjadi KAMUS. Tingkat sosial Mandela adalah
menengah bawah, karena dia belum mampu membeli rumah sendiri dan hanya bisa
tinggal di rumah mertuanya. Tingkat sosial Lulu adalah atas, karena dia adalah
jabatan beliau KAMUS. Tingkat sosial Mun Pasesa adalah menengah atas, karena
jabatan beliau lebih tinggi dari pada Mandela. Tingkat sosial Novi adalah
jabatan beliau di museum hanyalah sebagai pegawai biasa saja begitu juga dengan
Syahri. Tingkat sosial Istri Mandela adalah menegah bawah, karena dia mengikuti
kelas sosial dari suaminya.
1. Formasi
Idiologi Tokoh
Formasi
ideologi dapat ditelusuri melalui elemen material, kemudian dikaji lebih lanjut
pada hal-hal yang berkaitan dengan elemen kesadaran, elemen
solidaritas-identitas, dan elemen kebebasan.Keempat elemen tadi tidak harus
muncul bersamaan. Elemen yang harus muncul adalah elemen solidaritas-identitas,
elemen kebebasan yang berwujud berbagai aktivitas praktis dan terjelma dalam
kehidupan keseharian, cara hidup kolektif masyarakat, lembaga, serta organisasi
tempat praktik sosial berlangsung.
Formasi ideologi dalam teks muncul melalui tokoh, latar
(yang mencakup tempat, waktu, dan sosial), serta peristiwa.Dalam perspektif
kajian ini, semua elemen tersebut merupakan representasi ideologi yang melekat
pada setiap elemen tadi.Oleh karena itu, karya sastra disebut juga sebagai
situs ideologi.Karena, teks sastra merupakan dialektika pemikiran pengarang itu
sendiri yang dimunculkan melalu tokoh, latar, serta peristiwa. Akan tetapi,
dalam fiksi populer tidak hanya sebagai wadah-wadah ideologi, sebuah alat yang
menyenangkan dan senantiasa berhasil mentransmisikan ideologi dominan dari
industri-industri budaya kepada massa yang dikorbankan dan termanipulasi yang
harus dibongkar. Bertentangan dengan hal ini, mereka mengatakan bahwa fiksi
populer merupakan suatu ruang spesifik, dengan ekonomi ideologisnya sendiri,
yang menyediakan serangkaian wacana dan wacana-tandingan yang berubah-ubah
secara historis, kompleks, dan kontradiktif yang harus dihidupkan dalam kondisi
pembacaan tertentu.
Berikut
formasi ideologi masing-masing tokoh, berikut dapat dilihat dalam bagan di
bawah ini.
1. Tokoh
Nazar memerankan peran: humanis.
2. Tokoh
Jotambi memerankan peran: kapitalis dan
feodal.
3. Tokoh
Ikrar Gintiang memerankan peran: kapitalis.
4. Tokoh
Mandela memerankan peran: Humanis.
5. Tokoh
Lulu memerankan peran: kapitalis dan otoriter
6. Tokoh
Mun Pasesa memerankan peran: tertutup.
7. Tokoh
Novi memerankan peran: sosialis.
8. Tokoh
Syahri memerankan peran: sosialis
9. Istri
Mandela memerankan peran: humanis.
1. Menghubungkan
Formasi Ideologi dengan Realitas Masyarakat Saat Ini
Sebuah karya
fiksi dapat dipandang sebagai jembatan dunia objektif.Karya fiksi harus
menggambarkan idealisme masyarakatnya, sekaligus mengungkapkan gambaran
realitas masyarkatnya.Karya sastra merupakan gambaran kehidupan sosisal budaya.
Bagusnya sebuah karya sastra, akan menggambarkan pekanya pengarang dalam
memahami fonomena kehidupan di masyarakat.
Formasi idiologi
dalam novel Andika Cahaya karya
Darman Moenir dalam kehidupan sekarang sangat berkaitan. Hal itu disebabkan
oleh, pada zaman sekarang orang sangat tergila-gila akan adanya jabatan dan
uang.. Pandangan orang pada saat ini ialah mempunyai jabatan dan mempunyai uang
yang melimpah, akan disegani di mata masyarakat. Segala cara dilakukan agar
yang diinginkan tercapai. Cara yang dilakukan ada yang bersifat positif dan ada
pula bersifat negatif.
Contohnya saja
Mandela yang mendapatkan jabatan dengan jalan yang bersifat positif. Dia berupaya masuk PNS dengan mengikuti ujian
CPNS. Dan dia pun lulus, dan bekerja di Museum Andika Cahaya Padang.
Akan tetapi ada
oknum yang menggunakan cara kotor untuk mendapatkan suatu jabatan dan
mendapatkan uang dengan cara memanipulasi anggaran. Contohnya KAMUS (Kepala
Museum) Jotambi, Dia menjabat sebagai KAMUS karena dia mennyuap atasan yang ada
di Jakarta, agar dia tetap menjadi KAMUS di Museum Andika Cahaya. Tidak hanya
itu, setiap anggaran yang kegiatan, baik berupa kunjungan kerja, perbaikan
museum, bahkan gaji pegawai dia manipulasi dengan memberikan kuitansi kosong
kepada anak buahnya untuk ditanda tangani.
Idiologi yang
otoriter pun yang selalu melekat pada pemimpin juga diceritan dalam novel Andika Cahaya karya Darman Moenir. Hal
ini ada dalam kehidupan sekarang. Seorang pimimpin merasa dirinya adalah tuhan
yang patut dituruti apa perkataannya, dan tidak boleh melawan. Padahal beliau
selalu melakukan hal-hal yang dia larang kepada bawahannya. Hal tersebut ditemukan
di kehidapan skarang dan dalam novel Andika Cahaya karya Darman Moenir.
Contohnya Lulu, ketika dia menjadi KAMUS dia selalu mengeluarkan banyak aturan.
Dan dia akan marah besar kalau bawahannya datang terlambat. Akan tetapi dia
hampir tiap hari datang terlambat.
3. Interpretasi
Dalam novel Andika Cahaya karya Darman Moenir ini
memperlihatkan atau menggambarkan bagaimana idiologi orang-orang pada saat ini
yaitu ingin memerintah, ditakuti dan disegani. Dalam novel itu pengarang
menceritakan bagaimana sifat pemimpin yang selalu mencari kesempatan atau
untung yang besar dari bawahannya.
Dalam novel ini
diceritan bagaimana idiologi pejabat yang menggunakan jabatan untuk
menguasi orang lain. Dengan jabatan
yang diceritakan dalam novel tersebut orang sesuka hati memasukkan sanak
saudaranya untuk bekerja di lingkungan kerjanya, padahal orang yang dia
masukkan bukanlah orang yang berkompeten.
Menyodorkan kuitansi kosong pun diceritankan dalam novel tersebut,
seperti banya terjadi di lingkunan sekarang. Tidak hanya itu skandal suap pun
tidak luput dari cerita dalam novel.
Sebenarnya Novel Andika
Cahaya Karya Darman
Moenir ini mengambarkan watak orang kebanyakan yang berupaya mendapatkan uang
dan jabatan dengan segala cara. Semua hal yang diceritan dalam novel merupakan
kejadian-kejadian yang memilukan dan permasalahn yang teramat pelik dari nagara
Indonesia maupun untuk negara lain.
Sebahagian besar masalah hacurnya sebauah oragnisasi dan
negara tercemin di dalam novel itu. Misalnya KKN, permasalahan dilingkunagn
kerja, dan permasalah watak pemimpin yang berbeda-beda.
Contohnya saja, Jotambi seorang pemimpin yang sangat pintar.
Dia menganggap semua anak buahnya adalah teman baiknya, sehingga anak buah
menjadi segan dan menghormati Jotambi sebagi atasan. Akan tetapi, Jotambi
selalu mengambil untung dari pertemanan itu. Dia berbuat begitu agar anak
buahnya tidak membangkang dan menuruti apa saja permintaannya walaupun
permintaan tersebut akan selalu merugikan bawahannya.
Contoh kepemimpinan dari Ikrar Gintiang yang menggambarkan
watak yang berbeda lagi, yaitu dia sangat sulit dalam mengeluarkan dana atau
sering dibilang pelit hal ini berbeda dengan Jotambi. Kalau Jotambi dia sangat
mudah mengeluarkan uang, akan tetapi uang yang di keluarkan jumlahnya berbeda
dengan jumlah pembukuan. Sedangkan Lulu Permata Sari
tidak konsisten dengan apa yang dibilangnya.
Jadi Novel Andika Cahaya Karya Darman Moenir tidak hanya
menceritakan tentang hubungan antara atasan dengan bawahan, tapi juga idiologi
setiap orang yang berbeda-beda. Baik idiologi seseorang bawahan, maupun
idiologi kepemimpinan. Tidak itu saja, novel tersebut juga menceritakan tentang
setiap kepemimpinan juga akajugan menghadapi permaslahan yang berbeda juga
permasalahan yang dihadapi.
Sumber data dari
penelitian ini ialah
1.
novel : Andika Cahaya
2.
penerbit : AKAR Indonesia
3.
karya : Darman Moenir
4.
tahun terbit : 2012
Kepustakaan
Arum.
2012. Hegemoniyangterjadipadaantartokoh .http://arumshome.blogspot.com/2012/02/hegemoni-yang-terjadipada-antar-tokoh.html diunduh 8
Desember 2013.
Faruk. 2003. Pengantar Sosiologi
Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai
Postmodernism.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rohma.
2012. Hegemoni dalam laskar pelangi. http://rohmadwidy.wordpress.com/2012/03/29/hegemoni-dalam-laskar-pelangi/.
Diunduh pada 8 Desember 2013.
Sugiono,
Muhadi. 1999. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga.Yogyakarta
: Pustaka Pelajar.
Moenir, Darman. 2012. Andika Cahaya. Yokyakarta: AKAR Indonesia.