Padang, (Antara Sumbar) - Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar) yang berlokasi di Jalan Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Padang Utara, Padang, membutuhkan daya listrik 179.000 Watt guna operasional masjid, sementara daya listrik sekarang cuma 41.500 Watt.
"Saat ini daya listrik masjid 41.500 Watt sehingga hanya lampu masjid dan tiga unit AC (Air Conditioner) yang dapat dihidupkan dari enam unit dari sumbangan jamaah," kata Ketua Pengurus Masjid Raya Sumbar, Yulius Said, di Padang, Selasa.
Ia menambahkan karena kurangnya daya listrik tersebut maka kondisi udara di dalam masjid ketika shalat Tarawih menjadi panas.
Karena kondisi udara yang panas tersebut jamaah masjid saat shalat tarawih tahun ini berkurang sampai setengah dari tahun lalu, ujarnya.
Yulius Said mengatakan untuk mengatasi hal tersebut, pengurus masjid selain akan menaikan daya listrik juga akan membuat trafo sehingga bisa mengantisipasi masalah kelistrikan.
"Sebenarnya panasnya ruangan banyak dikeluhkan jamaah namun kami tidak bisa berbuat banyak karena keterbatasan dana," katanya.
Ia mengatakan permasalahan kurangnya daya tersebut telah disampaian ke Pemerintah Provinsi Sumbar dan akan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk tahun depan.
Sebelumnya jamaah shalat tarawih di Masjid Raya Sumbar, mengeluhkan panasnya udara saat beribadah di lantai dasar masjid tersebut karena minimnya kipas angin dan alat pendingin ruangan.
"Banyak jamaah yang tidak tahan panas dan pulang lebih dahulu sebelum salat witir selesai. Pengurus harus segera mencarikan solusi persoalan ini," kata Muhammad Yunus, salah seorang jemaah masjid di Padang, Selasa.
Melihat dari sejarah pembangunan Masjid Raya Sumbar atau dikenal dengan Mahligai Minang berawal dari kritikan dari Yusuf Kalla. Kritikan tersebut terjadi ketika Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden RI, Yusuf Kalla, dan Perdana Menteri Malaysia menghadiri acara di Bukittinggi yang bertepatan dengan hari Jum¿at.
Pada saat itu Gubernur Sumbar, Gumawan Fauzi dan panitia acara tersebut kesulitan mencari masjid untuk melaksanakan Shalat Jumat. Maka pada saat itu Yusuf Kalla mengkritik Gumawan Fauzi karena Sumbar merupakan daerah asal etnis Minangkabau yang kental dengan syariat Islam tapi tidak ada masjid sebagai ikon dari Minang dan Islam itu sendiri.
Setelah kritikkan dari Yusuf Kalla tersebut, Pemerintah Provinsi Sumbar mecari lahan untuk pembangunan masjid. Rencana awal pembangunan masjid berada di kantor Gubernur Sumbar. Namun karena lahan tersebut kecil maka disepakati masjid dibangun di lahan bekas Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Padang di Jalan Khatib Sulaiman, Alai Parak Kopi, Padang Utara, Padang.
Pada saat itu dilakukan sayembara untuk membuat desain masjid. Berjumlah 323 arsitek dari sejumlah negara ikut dalam sayembara tersebut. Namun hanya 71 desain masuk sebagai nominasi dan diseleksi oleh tim juri yang diketuai oleh sastrawan Wisran Hadi dan memutuskan pemenang sayembara tersebut ialah Rizal Muslimin.
Konstruksi bangunan masjid disesuaikan dengan kondisi geografis Sumbar yang sering diguncang gempa berkekuatan besar maka kekuatan konstruksi masjid tersebut dibuat untuk bisa menahan gempa hingga 10 Skala Richter. Jadi fungsi masjid tersebut tidak hanya sebagai tempat ibadah umat islam namun juga sebagai selter apabila terjadi tsunami.
Peletakan batu pertama masjid dilakukan oleh Gumawan Fauzi pada 21 Desember 2007 namun pengerjaannya dimulai pada tahun 2008. Pada 7 Februari 2014 merupakan hari pertama difungsikannya masjid dengan dilakukakannya shalat Jumat pertama di masjid tersebut. Diperkirakan pada Desember 2016 pembangunan masjid selesai hingga satu manara setinggi 85 meter. (*)